26 Desember Peringataaan 9 Tahun Tsunami Aceh

Kapal nelayan yang tak melaut
Ratusan nelayan di kawasan Lampulo, Banda Aceh, menghentikan aktivitas melaut untuk memperingati 9 tahun tragedi Tsunami Aceh. Mereka akan melakukan doa bersama untuk mengenang bencana dahsyat tersebut.

Kegiatan melaut digantikan dengan berdoa dan berzikir bersama. Panglima Laot Lhok Krueng Aceh, Tabrani mengatakan, penghentian kegiatan melaut ini memang sudah menjadi kesepakatan bersama seluruh panglima laot di Aceh.

“Itu adalah hari bersejarah. Bersejarah di sini maksudnya adalah hari yang tidak mungkin dilupakan ketika Allah memberikan peringatan bagi manusia. Sebagian besar korban adalah nelayan dan keluarganya. Untuk itulah, kita berzikir dan menyumbangkan doa untuk orang-orang yang kita cintai yang sudah mendahului kita,” jelas Tabrani.

"Kita sudah mengeluarkan imbauan untuk tidak melaut dan menghentikan segala aktivitas pada Kamis besok, untuk melakukan doa bersama di mesjid, dan ini sudah banyak kapal yang bersandar," ujar Panglima Laot Lhok Krueng Aceh, Tabrani di Banda Aceh.

Imbaun ini mulai berlaku dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB Kamis besok. "Bagi yang melanggar akan dikenakan saksi tidak boleh melalut selama satu minggu penuh dan ini telah disepakati bersama oleh nelayan," tambah Tabrani.

Tidak hanya mencari ikan, segala aktivitas yang berhubungan dengan laut juga diimbau untuk dihentikan, seperti bongkar muat barang, membuat jaring, maupun memperbaiki kapal. Di kawasan Lampulo terdapat 300-an kapal nelayan.

Aktivitas melaut baru dilanjutkan keesokan harinya. Masyarakat juga menaikkan bendera setengah tiang tanda berduka. Pemerintah Aceh memusatkan kegiatan doa dan zikir bersama di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Pemerintah daerah juga menetapkan tanggal 26 Desember sebagai hari libur daerah, yang dilanjutkan dengan ziarah ke makam massal korban gempa dan tsunami Aceh.

Sementara itu, Sehari menjelang 9 tahun Tsunami Aceh, ribuan ikan berloncatan ke darat di pesisir Pantai Kampung Tambisan, Sabah, Lahad Datu, Malaysia, Rabu (25/12/2013). Penduduk setempat pun langsung mengambil ikan-ikan yang dikenal dengan sebutan ikan tamban itu.

Seorang penduduk setempat, Suzila Abdullah mengatakan, fenomena seperti itu sudah terjadi sejak 3 tahun terakhir. "Tetapi tahun ini kelihatan berbeda, karena jumlah ikan yang timbul amat banyak," katanya, seperti di kutip dari themalaysianisider.com.

Suzila mengaku percaya, musim sekarang yang berombak kuat membuat ikan-ikan tersebut naik ke darat, tetapi hanya 2 atau 3 hari saja.

Oleh warga setempat, ikan-ikan tersebut dipungut dan dimasak. Ada juga penduduk kampung yang menjual ikan tersebut di Lahad Datu atau daerah lain.